Pernahkah kamu kepingin pikun. Hanya ingin melupakan saja. Seakan-akan kamu ingin menghilangkan sesuatu dengan sengaja, segera. Seperti ingin menghapus kenangan baik itu pahit maupun manis.
Ketika kamu pikun, kamu dapat lebih tulus lagi mencintai orang lain. Walaupun mungkin di kehidupan sebelumnya orang tersebut pernah membuatmu terluka— sebutlah saat ini saya hanya ingin pikun. Saya tidak mau mengingat-ingatmu lagi dengan detail.
Detail itu kemudian menjadi begitu brengsek, ketika kamu hendak melupakan seseorang. Atau tercipta menjadi seseorang yang begitu detail itu seperti dikutuk. Saya memejamkan mata dan berharap saya bisa melupakan kamu segera.
Bayangan-bayangan itu masih ada. Kerut-kerut wajahmu. Bentuk jari-jari tanganmu. Senyummu. Caramu mengaduk makanan. Celana jins-mu. Ujung sepatumu. Warna sendalmu. Saya mengingatmu dengan begitu detail. Karena begitulah saya—hal kecil pun menjadi begitu penting bagi saya.
Ini yang terkadang membuat saya benci kepada diri saya sendiri. Tolol! Kenapa ada orang seperti saya yang punya ingatan begitu detail. Lalu detail ini yang nantinya membuat saya begitu terluka.
Saya begitu percaya denganmu. Saya pegang teguh perkataanmu. Ah bodohnya saya. Lalu kalau sudah begini apa yang harus saya lakukan. Dengan frustrasi saya mulai membanting-banting isi tas.
Kali ini saya betul-betul ingin segera pikun—melupakanmu.